Kampung Petukangan sebagai tempat lahir dan berkembangnya silat Beksi penuh dengan cerita dan saksi sejarah yang masih harus terus digali. Salah satunya kesaksian dari Baba Nafis atau dikenal sebagai sang “Jenderal Beksi” yang berhasil ditemui belum lama ini di sekretariat Yayasan Kampung Silat Petukangan, Jl. Ciledug Raya No.46, Petukangan Utara, Jakarta Selatan.
“Awal mula saya belajar Beksi karena ikutan yang laen aja, banyak tuh yang belajar. Kira-kira usia SMP lah kalo sekarang,” kata Baba Nafis beberapa waktu lalu.
Sepak terjangnya bersama Beksi menorehkan prestasi yang tidak disangka. Berkat ketekunan dan kedisiplinan dalam berlatih, dirinya dipercaya untuk ikut bertanding dalam kejuaraan pencak silat se-Jawa Barat tahun 1975 di Bandung.
Baba Nafis memperagakan jurus Beksi (Foto: Rido) “Waktu itu Almarhum H. Hasbullah menunjuk saya, Satirih ama Said Jawwas. Sebelumnya kita tanding di Tangerang dulu setelah menang terus lolos untuk tanding di Gedung Merdeka, Bandung,” terang Baba Nafis.
Menurutnya, penonton saat itu sangat ramai hingga hampir memenuhi ruangan. Setelah pulang dan mendengar kabar kemenangan di Bandung dari ketiganya. H. Hasbullah pada saat itu sangat senang dan kemudian membuat nama Beksi semakin dikenal luas sehingga banyak sekali orang berdatangan dari berbagai daerah sekitar Jakarta untuk belajar langsung ke Petukangan.
Silat Beksi dalam beberapa tahun berikutnya semakin berbenah dan sadar akan organisasi. Maka pada tahun 1980-an, para pembesar Beksi di Petukangan menggelar rapat dan terbentuklah PS. Beksi.
“Sebelum ada rapat itu, logo yang gambarnya ada burung Hong dan Naga adalah karya saya dan beberapa teman waktu itu yang sampe sekarang masih digunakan,” terang Baba Nafis yang juga cukup mahir dalam berbahasa Inggris.
Menurutnya lagi, makna Beksi (Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan) ia cetuskan berbarengan dengan logo tersebut. Namun sangat disayangkan, organisasi PS. Beksi yang menjadi harapan tidak berjalan dan berhenti begitu saja.
“Mungkin waktu itu bubar karena kurangnya sumber daya yang memang betul-betul paham makna organisasi,” jelasnya.
Meski akhirnya organisasi tidak berjalan, Baba Nafis pantang menyerah dan berkeinginan untuk menyatukan Beksi dalam satu wadah dan kesatuan. Berbekal pengalamannya sebagai seorang P2U (Provos Pengaman Umum) atau sekarang kepolisian, membuat tekadnya kuat dan mendukung penuh Yayasan Kampung Silat Petukangan sebagai wadah kebangkitan Beksi di Kampung kelahirannya, Petukangan.
“Lambang yayasan sendiri pencetusnya saya berangkat dari logo yang lama tahun 1980-an, semuanya punya filosofi dan maknanya masing-masing. Dan yayasan ini bukan untuk menyatukan Beksi dalam hal jurus atau gerakan, kalo jurus mah soal masing-masing. Tetapi ini sebagai penyatuan wadah sebagaimana pesan para guru besar dulu,” tambahnya.
Sang Jenderal Beksi kini usianya telah tua dan menginjak hampir 80 tahun. Meski demikian, dirinya masih aktif dan membina banyak perguruan Beksi. Panggilannya sebagai “Jenderal Beksi” adalah sebutan masyarakat sebagai realita kekuatan emosional dan kiprah dirinya pada masa lalu. Ia berpesan bahwa hidup ini harus dapat memberikan banyak manfaat bagi orang lain.
“Dengan Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan (Beksi) adalah salah satu jalan dalam meraih Ridho Ilahi,” tegasnya.
(M. Rido)
Komentar
Posting Komentar