Menurut penuturan keluarga bahwa tahun wafatnya beliau sekitar tahun 1970. Hingga saat ini, makamnya tidak diberi nisan dan hanya berupa gundukan tanah pada lahan kecil di tengah pemukiman. Lahan kecil yang digunakan sebagai tempat tinggal yang terakhirnya saat ini, dahulu merupakan halaman rumahnya yang megah dan berarsitektur khas Betawi.
Secara fisik, perawakan beliau tinggi besar dan berkulit putih. Selama hidup beliau, menurut narasumber bahwa Mandor Minggu telah memiliki lima orang istri yang bernama Asenah, Juriah, Yani, Mardiah dan satu lagi tidak diketahui namanya. Baba Hasanudin menambahkan, selama hidupnya Mandor Minggu adalah orang yang santun, tetapi tegas terhadap kondisi yang menurutnya tidak sesuai. Pekerjaan utamanya dahulu adalah seorang kepala keamanan dari kampung Petukangan atau semacam sinder (pengawas pabrik atau perkebunan milik pemerintah) dan dari situlah beliau mendapatkan nama panggilannya sebagai mandor/pencalang desa.
Mandor Minggu menjadi salah satu murid generasi awal yang utama dari H. Godjalih bersama H. Hasbullah, Kong Simin dan Kong Nur. Ketika H. Godjalih sedang tiada di kampung Petukangan, pengajaran silat Beksi dilanjutkan oleh Ki Marhalli di Dadap ataupun di Petukangan, seperti murid generasi awal yang lainnya. Tidak seperti tiga sahabatnya yang lain, Mandor Minggu jarang sekali terdengar bahwa beliau terlibat konflik dengan pemerintah kolonial, sehingga tidak pernah menjadi incaran pemerintah.
Sebagai salah satu orang yang bertanggungjawab atas keamanan warga kampung Petukangan, Mandor Minggu menjadi salah satu palang pintu yang menghadang potensi konflik. Ketika pasukan Jepang pimpinan Kapten Abe menjarah kampung-kampung di seputaran Serpong hingga Ciledug, bersama sahabat lainnya (Beksi), beliau menolak kedatangan tentara Jepang yang bermaksud menjarah. Akibatnya, beliau ikut dicari oleh pihak Jepang, walaupun saat itu posisi Jepang sudah kalah perang.
Saat peristiwa rapat raksasa di lapangan Ikada di bulan September 1945 bersama ketiga sahabatnya yang lain, beliau diperintahkan oleh gurunya untuk ikut mengamankan kondisi di sana. Selama masa bersiap pada tahun 1946, Mandor Minggu secara aktif ikut mengamankan daerah Petukangan, terutama dari Laskar Ubel-Ubel yang bergerak dari daerah Curug, Tangerang. Laskar pimpinan Kyai Achmad Chaerun ini sebenarnya bermaksud mengacaukan pasukan Belanda, tetapi justru sering anggota laskarnya mengacaukan pergerakan pasukan BKR (Barisan Keamanan Rakyat) dan seringnya merampok rakyat di wilayah yang dilaluinya. Hal itu terjadi selama bulan September hingga awal November 1945, sebelum berhasil digulung oleh pasukan BKR.
Saat terjadi peristiwa Lengkong di Serpong pada bulan Januari 1946, beliau ikut bersama untuk mengamankan dan mengawal pasukan pimpinan Mayor Daan Mogot. Namun sayangnya saat itu, kondisi kacau balau yang menyebabkan puluhan pasukan TKR tewas. Saat Jakarta kemudian diduduki NICA dan Republik Indonesia terbatas pada garis demarkasi pada tahun 1946, Mandor Minggu hanya sebentar saja pergi ke Bekasi dan Karawang mengikuti sahabatnya. Sebagai seorang “juara” beliau dicari karena NICA ingin memanfaatkannya sebagai pasukan Bumiputra. Beliau menolak karena dalam prinsipnya, beladiri silat bukan untuk berkelahi dan menindas rakyat. Sehingga lebih baik mati daripada membantu NICA Belanda, menguasai Indonesia kembali.
Menurut Baba Hasanudin bahwa Mandor Minggu pernah berpesan,”Cari temen, jangan cari musuh, tapi kalo ada jangan lari” atau dengan kata lain, dengan istilah buka lari yang berarti,”Sebelum lu jual, gua udah beli duluan”. Sekalipun sering bersikap keras terhadap kondisi, Mandor Minggu secara pribadi adalah seorang yang santun dalam bertutur kata dan begitu penyabar, sehingga sebisa mungkin pertarungan dihindari jika memang tidak menghasilkan faedah untuk diri dan sekitarnya. Oleh sebab itu, beliau orang yang selalu berdisiplin dalam setiap sesuatu. Sehingga kedisiplinan tersebut dituangkan dalam pembelajaran ilmu silat Beksi, yaitu setahap demi setahap.
Sebuah cerita diterangkan di tahun 1970-an, pernah para “juara” atau jawara silat Beksi Petukangan di-sambut (dalam bahasa Indonesia; ditantang atau diuji kemampuan) oleh warga Jombang (Sudimara saat ini). Sambutan itu diterima oleh para jawara Petukangan, terutama Mandor Minggu, H. Hasbullah, Simin dan M. Nur. Semua perlengkapan dan panggung sudah disiapkan oleh warga Jombang. Warga Petukangan serentak hadir dengan menggunakan kereta api sebanyak empat gerbong ke sana. Beberapa warga dari desa-desa di sekitar Petukangan dan Jombang, sudah lebih dulu hadir.
Melihat antusiasme dari warga Petukangan dan para jawara silat Beksi, warga Jombang yang mengundang sambutan serta merta membatalkan acara tersebut dan hanya sekedar menyambut kedatangan para jawara silat Beksi dengan bersilaturahmi saja. Maksud utama adanya acara sambutan tersebut adalah upaya mempermalukan warga Petukangan bahwa silat Beksi akan mudah dikalahkan oleh jawara-jawara dari Jombang (Sudimara). Begitu mereka telah sadar akan sejarah dan kemampuan warga Petukangan yang diwakili oleh para jawara-jawaranya dan akhirnya mereka justru berkecil hati dengan membatalkan acara tersebut dan kemudian meminta agar para jawara termasuk Mandor Minggu untuk menerima beberapa generasi muda warga Jombang belajar silat Beksi.
Murid-murid silat Beksi dari jalur Mandor Minggu saat ini, berasal dari Bekasi, Karawang, Tangerang Selatan bahkan ada yang berasal dari Irian (Papua). Walaupun telah mempunyai kemampuan serta jabatan, menurut penuturan keluarganya bahwa petuah Mandor Minggu menyatakan “Semua itu hanya titipan dan jangan dibuat pamer. Sedapat mungkin bersabarlah walaupun bisa menjadi pegawai pemerintah”. Pesan utama Mandor Minggu,”Dengan sepenuh hati bekerja dengan baik membantu warga yang membutuhkan, sebab itu merupakan salah satu sarana ibadah”. Tutur Baba Hasanudin mengakhiri perbincangan. (Aziz)
Komentar
Posting Komentar